Minggu, 27 Januari 2013

Gelar Kebangsawanan Dalam Tradisi Istana-Istana Di Jawa: Part 2

Salam damai!!  Maaf, agak lama nih saya menyambung lagi tulisan saya.  Maklum, banyak pekerjaan juga yang mengantri di belakang, minta diselesaikan, hehehe...  Baiklah!  Tanpa banyak beralasan lagi, silakan menyimak kelanjutan dari tulisan sebelumnya.

SURAKARTA HADININGRAT
Kalau mungkin Anda membaca dan ingat dengan bagian pertama dari tulisan ini, tentunya Anda sudah bisa menyimpulkan sendiri bahwa Dinasti Pakoe Boewono merupakan dinasti tertua di antara keempat dinasti yang ada di Solo dan Jogja sebagai kelanjutan tak berputus dari Mataram Islam.  Meski Mataram sendiri, ketika masih menjadi satu, beberapa kali mengalami perpindahan lokasi pusat pemerintahan termasuk istananya, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang hingga kini fisiknya masih bisa Anda saksikan di pusat kota Solo, adalah saksi bisu yang sempat mengalami Mataram Islam yang satu di bawah Susuhunan Pakoe Boewono II, dan kemudian, beberapa saat menjelang Perjanjian Giyanti, Susuhunan Pakoe Boewono III.  Oleh karena itu, raja-raja beserta keturunan dan kerabatnya kerap menyebut Susuhunan Pakoe Boewono sebagai "Raja Diraja", yang mengandung makna "raja besar/agung", atau "raja di atas segala raja".  Secara tidak langsung, istilah tersebut merupakan bentuk pengakuan ketiga dinasti lain yang ada di Solo dan Jogja pada senioritas Dinasti Pakoe Boewono.  

Berbicara sistem gelar yang berlaku di Keraton Kasunanan, bagi saya, agak rumit.  Sekian banyak sumber, baik lisan maupun tertulis yang saya temui dan baca, memberi keterangan yang agak berbeda-beda.  Ditambah "kebiasaan" Keraton Kasunanan dalam memberikan anugerah gelar yang relatif konsisten, membuat bermunculannya gelar-gelar baru yang dahulu tidak dikenal.  Tetapi, sebisa mungkin saya akan menyajikan apa yang saya ketahui.

Gelar Bagi Laki-laki
Gelar Resmi Susuhunan :
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (S.I.S.K.S) Pakoe Boewono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping ... (lalu angka urutan bertahta)
Namun, ada pula variasi lain dari gelar resmi Susuhunan yaitu:
Sahandhap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping ... (lalu angka urutan bertahta)
Pada zaman Susuhunan Pakoe Boewono X, gelar resmi Susuhunan ditambah atas prakarsa beliau sendiri dan digunakan hanya untuk beliau yaitu:
Susuhunan Pakoe Boewono X (dok.pribadi)
Sampeyan Dalem Ingkang Minulya Saha Wicaksana Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping X (sedasa, Jw. = sepuluh).
Dalam penyebutan, Susuhunan disebut Ingkang Sinuwun atau Sinuwun.  Dengan penyebutan itu, bagi mereka yang paham konteksnya, pastilah secara langsung merujuk pada Susuhunan.

Gelar Resmi Bagi Putra Susuhunan:
G.R.M. = Gusti Raden Mas, diberikan langsung kepada putra-putra Susuhunan saat lahir, diikuti dengan nama kecil atau asma timur-nya.  Dahulu, gelar ini hanya diberikan untuk putra-putra Susuhunan yang lahir dari Permaisuri.  Akan tetapi, sejak masa pemerintahan Susuhunan Pakoe Boewono X, pembedaan gelar antara putra-putra Susuhunan yang lahir dari Permaisuri dan Selir, dihapuskan.  Dahulu dikenal pula gelar R.M.G. = Raden Mas Gusti, yang diberikan kepada putra Susuhunan yang tertua dari Permaisuri.

G.P.H. = Gusti Pangeran Harya, diberikan kepada putra-putra Susuhunan yang telah beranjak remaja/dewasa.  Dengan gelar ini, seorang putra Susuhunan sudah menjadi "Pangeran Junior" dan biasanya sudah dilibatkan dalam urusan istana dengan tanggungjawab tertentu.

K.G.P.H. = Kangjeng Gusti Pangeran Harya, gelar kehormatan yang diberikan kepada putra-putra Susuhunan yang tidak saja dianggap senior secara usia, namun juga kemampuan, dan kinerjanya.  Gelar ini merupakan gelar "Pangeran Senior" yang umumnya menempatkan putra Susuhunan yang menyandangnya pada posisi yang cukup tinggi dalam protokoler keraton, kekerabatan secara umum, maupun hal-hal lain yang ada kaitannya dengan keraton.

K.G.P.Ad.Anom = Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, gelar yang diberikan kepada putra Susuhunan yang merupakan putra mahkota atau Pangeran Pati.  Gelar ini biasanya diikuti dengan nama Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Ing Mataram. 

K.G.Pnb. = Kangjeng Gusti Panembahan, gelar kehormatan tertinggi yang diberikan kepada putra-putra Susuhunan yang dianggap layak menyandangnya karena pertimbangan-pertimbangan pribadi Susuhunan.  Dalam posisi sebagai "Panembahan", seorang putra Susuhunan yang menyandangnya, berada di posisi yang sangat dekat dengan Susuhunan secara hirarkis.

Gelar Resmi Bagi Cucu Laki-laki Susuhunan
B.R.M. = Bandara Raden Mas, gelar bagi cucu Susuhunan yang secara otomatis diberikan ketika lahir.
Catatan: Sebelum masa pemerintahan Susuhunan Pakoe Boewono X, gelar B.R.M. diberikan kepada putra-putra Susuhunan yang lahir dari selir.  Putra tertua dari selir diberi gelar B.R.M.G. = Bandara Raden Mas Gusti.   Untuk para cucu laki-laki Susuhunan, gelar B.R.M. hanya diberikan kepada mereka yang orangtuanya adalah seorang Gusti, atau merupakan putra Susuhunan dari Permaisuri.  Namun, Susuhunan Pakoe Boewono X menghapus peraturan tersebut dan memperkenankan keturunan generasi kedua (cucu) untuk menggunakan gelar B.R.M. tanpa terkecuali.

B.K.P.H. = Bandara Kangjeng Pangeran Harya, gelar ini dahulu diberikan kepada putra Susuhunan dari Selir yang telah diwisuda menjadi Pangeran.  Namun, kini gelar tersebut sudah tidak lagi dikenal.

K.R.M.H. = Kangjeng Raden Mas Harya, gelar kehormatan bagi cucu Susuhunan atau generasi-generasi dibawahnya yang dianggap telah dewasa dan mampu turut bekerja/berkontribusi untuk Keraton, atau dianggap berjasa bagi Keraton.

K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya, gelar kehormatan bagi cucu Susuhunan yang lahir dari seorang Pangeran senior.  Akan tetapi, dalam banyak kasus tertentu, gelar ini juga diberikan kepada putra-putra Pangeran lainnya, atau kepada putra tertua dari putra atau putri Susuhunan sesuai kehendak dan pertimbangan pribadi Susuhunan.

Gelar Resmi Bagi Cicit Laki-laki Susuhunan dan Generasi Dibawahnya
R.M. = Raden Mas, gelar bagi cicit laki-laki Susuhunan hingga satu generasi dibawahnya.

R.B. = Raden Bagus, gelar bagi keturunan keenam dari Susuhunan (cucu dari cicit Susuhunan) hingga berusia kira-kira 15 tahun.  Sesudah itu, atau jika sebelum usia 15 tahun sudah menikah, maka gelarnya menjadi R. = Raden.

Gelar-Gelar Khusus Bersifat Kepangkatan Bagi Laki-laki:
K. Pnb. = Kangjeng Panembahan, diberikan kepada kerabat/non-kerabat Susuhunan yang dianggap berjasa besar, baik kepada Susuhunan maupun Keraton.  Sampai dengan hari ini, golongan non-kerabat yang menerima gelar kehormatan tertinggi ini adalah Almarhum Go Tik Swan (etnis Tionghoa, tokoh maestro batik, spiritualis, berdiam di Solo), yang setelah dianugerahi gelar tersebut oleh Susuhunan Pakoe Boewono XII namanya diubah menjadi Kangjeng Panembahan Hardjonagoro

K.P. = Kangjeng Pangeran, gelar kehormatan yang diberikan kepada kerabat/non-kerabat yang dianggap berjasa besar kepada Keraton.  Gelar ini juga diberikan kepada menantu laki-laki Susuhunan.

K.P.H. = Kangjeng Pangeran Harya, gelar kehormatan bagi kerabat/non-kerabat yang dianggap berjasa besar kepada Keraton.

K.R.Ad. = Kangjeng Raden Adipati, gelar bagi Pepatih Dalem atau semacam Perdana Menteri, pelaksana pemerintahan negara.  Seorang pensiunan Patih, dapat saja menerima gelar kehormatan seperti K.P.H. atau K.P., tergantung pada perkenan Susuhunan.

K.R.M.T.H. = Kangjeng Raden Mas Tumenggung Harya, gelar kepangkatan tingkat menengah atas bagi kerabat/non-kerabat yang masih memiliki darah bangsawan dan bergelar lahir R.M.

K.R.M.T. = Kangjeng Raden Mas Tumenggung, gelar kepangkatan tingkat menengah atas bagi kerabat/non-kerabat yang masih memiliki darah bangsawan dan bergelar lahir R.M.

K.R.T.H. = Kangjeng Raden Tumenggung Harya, gelar kepangkatan tingkat menengah atas bagi kerabat/non-kerabat yang masih memiliki darah bangsawan dan bergelar lahir R.

K.R.T. = Kangjeng Raden Tumenggung, gelar kepangkatan tingkat menengah atas bagi kerabat/non-kerabat yang masih memiliki darah bangsawan dan bergelar lahir R.

K.R.H.T. = Kangjeng Raden Harya Tumenggung, hingga saat ini saya masih belum paham dengan posisi kepangkatan dari gelar ini.  Apakah sama dengan gelar-gelar semacamnya yang telah disebutkan di atas, atau ada perbedaan?  Yang jelas, gelar ini dikenal di kalangan Keraton Kasunanan Surakarta.

K.R.H. = Kangjeng Raden Harya, gelar kepangkatan menengah bagi kerabat/non-kerabat yang telah bergelar R. Jika yang bersangkutan tidak memiliki garis keturunan bangsawan, maka menjadi K.R.A. = Kangjeng Raden Arya.  Baru-baru ini juga saya lihat ada seseorang bergelar K.R.M.A. = Kangjeng Raden Mas Arya.  Apakah ini sama dengan K.R.M.H. di atas, namun kasusnya beliau tidak bergaris keturunan bangsawan, saya kurang paham.

R.T. = Raden Tumenggung, semacam gelar kepangkatan menengah yang berada setingkat di bawah K.R.T.

K.R.M.P. = Kangjeng Raden Mas Panji, gelar kepangkatan bagi kerabat Susuhunan.  Saya agak kurang paham hirarki kepangkatannya, tetapi biasanya istilah "Panji" terkait dengan pekerjaan di bidang keprajuritan.

R.M.P. = Raden Mas Panji, sama dengan K.R.M.P.

R.M.Ng. = Raden Mas Ngabehi, gelar kepangkatan tingkat menengah bagi kerabat/non-kerabat yang masih berdarah bangsawan dan bergelar lahir R.M.

R.Ng. = Raden Ngabehi, gelar kepangkatan tingkat menengah bagi kerabat/non-kerabat yang masih berdarah bangsawan dan bergelar lahir R.

Gelar kepangkatan seperti tersebut di atas, juga berlaku bagi penerima gelar yang sama sekali tidak memiliki darah bangsawan.  Bagi kasus semacam ini, maka R yang merupakan singkatan dari Raden, diganti menjadi M yang merupakan singkatan dari Mas.  Contoh: M.Ng. = Mas Ngabehi; K.M.T. = Kangjeng Mas Tumenggung.  Akan tetapi, umumnya, mereka yang bergelar Mas, tidak dapat naik hingga menjadi Pangeran.


Gelar Bagi Perempuan
Gelar Resmi Permaisuri Susuhunan
G.K.R. = Gusti Kangjeng Ratu, gelar ini biasanya diikuti dengan nama-nama seperti Kencana, Hemas, atau Pakoe Boewono.  Gelar G.K.R. juga diberikan kepada putri Susuhunan yang sudah menikah dan terlahir dari Permaisuri.  Sebagian ada yang berpendapat bahwa gelar ini  hanya diberikan kepada putri sulung Susuhunan dari Permaisuri.  Akan tetapi, pada masa sekarang, hampir seluruh putri-putri Susuhunan Pakoe Boewono XII dianugerahi gelar ini.
Catatan: Dahulu dikenal pula gelar K.R. = Kangjeng Ratu yang juga diberikan pada Permaisuri Susuhunan dan putri tertua Susuhunan dari Selir.  Namun, kini gelar tersebut sudah tidak lagi digunakan.

Gelar Resmi Bagi Putri Susuhunan
G.R.Aj. = Gusti Raden Ajeng, gelar ini diberikan kepada para putri Susuhunan yang lahir dari Permaisuri.  Namun, sejak bertahtanya Susuhunan Pakoe Boewono X, pembedaan gelar bagi putri-putri yang lahir dari Permaisuri dan Selir Susuhunan, dihapuskan.

G.R.Ay. = Gusti Raden Ayu, gelar ini diberikan kepada para putri Susuhunan yang telah menikah dan lahir dari Permaisuri.  Ketika seorang putri Susuhunan menikah dan menyandang gelar G.R.Ay., biasanya nama lahirnya hilang dan mengikuti nama suaminya.  Atau, nama lahirnya tetap dipertahankan, namun di belakang disertai dengan nama suami.

Gelar Resmi Bagi Cucu Perempuan Susuhunan
B.R.Aj. = Bandara Raden Ajeng, gelar ini diberikan kepada para cucu perempuan Susuhunan.
Catatan: Sebelum masa Susuhunan Pakoe Boewono X, gelar ini juga diberikan kepada putri-putri Susuhunan yang lahir dari Selir.  Bagi putri tertua Susuhunan dari Selir diberi gelar B.R.Aj.G. = Bandara Raden Ajeng Gusti.  Sesudah Susuhunan Pakoe Boewono X bertahta, gelar bagi para putri dan putra diberlakukan sama baik bagi putra-putri Susuhunan dari Permaisuri maupun Selir.

B.R.Ay. = Bandara Raden Ayu, gelar ini diberikan kepada para cucu perempuan Susuhunan yang telah menikah.  Selain itu, gelar ini juga diperuntukkan bagi Selir Susuhunan yang masih berdarah bangsawan.

Gelar Resmi Cicit Perempuan Susuhunan dan Generasi Dibawahnya
R.Aj. = Raden Ajeng, atau juga sering disingkat R.A., diberikan kepada cicit perempuan Susuhunan hingga satu generasi dibawahnya.

R.Ay. = Raden Ayu, diberikan kepada cicit perempuan Susuhunan dan satu generasi dibawahnya yang telah menikah.  Gelar Raden Ayu juga diberikan kepada Selir Susuhunan, dan istri para Pangeran putra Susuhunan.

R.Rr. = Raden Rara, diberikan kepada keturunan keenam Susuhunan (cucu dari cicit Susuhunan), dan generasi-generasi dibawahnya tanpa putus.  Apabila telah menikah maka gelarnya menjadi R.Ngt. = Raden Nganten.

Gelar-Gelar Khusus Bersifat Kepangkatan Bagi Perempuan:
K.R.Ay.Ad. = Kangjeng Raden Ayu Adipati, merupakan gelar tertinggi bagi kerabat/non-kerabat perempuan.  Dahulu, gelar ini diberikan kepada Patih Putri di Keraton Kasunanan Surakarta yang bertugas membawahi urusan internal dan rumahtangga pribadi Susuhunan.  Saat ini, tokoh yang mendapat kehormatan gelar ini adalah Mantan Menteri Sosial Ibu Nani Soedarsono (K.R.Ay.Ad. Sedhahmirah), dan perancang busana Poppy Darsono (K.R.Ay.Ad. Kusumaningrum).

K.R.Ay. = Kangjeng Raden Ayu, gelar kehormatan bagi cucu perempuan Susuhunan dan generasi-generasi dibawahnya yang dianggap berjasa bagi Keraton.  Gelar ini juga diberikan kepada Permaisuri putra mahkota, dan kerabat Keraton (perempuan) lainnya yang dianggap berjasa.

Bagi para perempuan yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan, saat ini dikenal gelar-gelar seperti:
K.M.Ay. = Kangjeng Mas Ayu; K.M.Ay.T. = Kangjeng Mas Ayu Tumenggung (setingkat bupati sepuh atau golongan kepangkatan menengah atas); Nimas Ayu Tumenggung.

Dahulu, para Selir Susuhunan juga memiliki gelar-gelar seperti:
K.B.R.Ay = Kangjeng Bandara Raden Ayu (menurut sumber yang pernah saya baca, gelar ini adalah untuk Selir Susuhunan yang menjadi lurah Ampeyan Dalem atau semacam "koordinator" bagi para Selir Susuhunan di masa lampau); M.Aj. = Mas Ajeng; M.Ay. = Mas Ayu.

Nah, bagaimana??  Ribet bukan..??  Hehehe... Baiklah.  Saya akhiri dulu bagian kedua dari tulisan saya ini.  Segera setelah ini, saya akan sambung kembali dengan gelar kebangsawanan yang berlaku di Keraton Jogja.
Sampai jumpa!

Banyak cinta buat Anda!!





 

34 komentar:

Roro Mira mengatakan...

gelar saya Raden Roro, berarti setelah saya menikah berubah menjadi Raden Nganten? Apa harus melalui proses wisuda? :o

Roro Mira mengatakan...

gelar saya raden roro, berarti setelah saya menikah berubah menjadi raden nganten? apa itu harus melalui proses wisuda atau mengganti sendiri?

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Mbak Mira. Terima kasih atas umpan baliknya. Oke. Akan saya coba jawab. Pertama, betul. Bahwa seseorang bergelar "Raden Roro", ketika sudah menikah gelarnya menjadi "Raden Nganten", atau di Jogja bisa juga hanya "Raden". Kedua, perubahan gelar tersebut terjadi otomatis, Mbak. Artinya, tidak melalui proses wisudhan karena gelar tersebut bukan gelar kepangkatan melainkan keturunan. Demikian jawaban saya, semoga berkenan. Salam!

Nefriana mengatakan...

"Raden Rara, diberikan kepada keturunan keenam Susuhunan (cucu dari cicit Susuhunan), dan generasi-generasi dibawahnya tanpa putus." Jadi, apabila seorang Radenroro mempunyai anak perempuan, terlepas apakah suaminya berdarah biru atau tidak, akan tetap mempunyai gelar Radenroro juga? Kemudian apakah anak laki-lakinya juga akan bergelar Raden? Terima kasih.

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Salam, Nefriana. Maaf, saya harus memanggil Mbak atau Ibu, ya? Oke, saya akan mencoba menjawab pertanyaan Anda. Yang pertama adalah, dalam hal kekerabatan, terutama soal penurunan gelar kepada anak keturunan, Jawa tidak menganut sistem patrilineal murni. Hal ini dapat dilihat buktinya melalui kasus keturunan raja dari anak perempuannya, cucu raja yang lahir dari anak perempuan raja tetap berhak menyandang gelar sesuai aturan yang berlaku, kecuali jika ayahnya juga anak raja, maka anak yang dilahirkan dari pernikahan itu bisa mengambil gelar dari ayahnya.
Kedua, dalam kasus Raden Rara (jika sudah menikah menjadi Raden Nganten) yang bersuamikan bukan keturunan raja Jawa, anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, tetap berhak mewarisi gelar dari ibunya.
Demikian jawaban saya, semoga puas dan berkenan.
Terimakasih.

choirul roziqin mengatakan...

saya orang biasa, apakah peluang saya untuk menikah dengan raden roro tertutup? kalau saya jadi menikah dengan si raden roro itu, gelar apa yang melekat dengan namanya setelah menikah dengan saya? Lalu apakah anak kami tidak mendapat gelar kebangsawanan?

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Mas Choirul.
Yah, Mas... Hari gini jam segini, ya kali' masih aja mikir nikah beda kelas... Bangsawan sekarang apa sih pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari? Semua keraton kan sekarang fungsinya hanya cagar budaya. Raja dan para bangsawan di masa sekarang adalah agen-agen budaya tradisi. Gak lebih. Jadi jgn khawatir, dengan keyakinan yang insya Allah kontekstual, saya akan jawab pertanyaan pertama Mas dengan, TIDAK. Peluang akan selalu ada. Tergantung upaya dan takdir.. Hehehe..

Kedua, mungkin Mas juga tidak membaca lengkap unggahan saya, karena sebetulnya semua sudah saya jelaskan di situ. Di komentar sebelum Mas juga ada. Raden Rara yang sudah menikah akan menjadi Raden Nganten.

Ketiga, anak Mas dengan istri yang bergelar Raden Nganten tetap bisa memeroleh gelar dari pihak ibunya.

Demikian jawaban saya. Terima kasih.

Roro Mira mengatakan...

jadi saya berhak memberi nama anak saya kelak dengan raden roro kalau dia perempuan dan raden bagus untuk laki-laki?

ibu saya juga bergelar raden roro, tapi sekarang nama itu sudah tidak tertera di ktpnya
kaka sepupu perempuan saya yg skrg sudah menikah bahkan tidak memakai gelar Raden Ngantennya sehingga namanya tanpa gelar

nama yg saya peroleh ini dari eyang saya yang bergelar KRT di keraton. Jadi semua cucu eyang saya memiliki gelar.

karena eyang saya sudah meninggal, 2 adik saya bahkan tidak memiliki gelar Raden Roro didepannya .__. karena saya adalah cucu terakhir yang diberi gelar sebelum eyang meninggal

saya masih bingung, dan lagi
di buku nikah nanti, apakah gelar raden nganten tetap dituliskan?

maaf jika banyak tanya, hehe

Roro Mira mengatakan...

kaka sepupu saya bergelar raden roro dan sebelum dia menikah gelar itu dilepasnya

jadi sekarang dia dan anaknya tidak memiliki gelar apapun

adik-adik saya tidak memiliki gelar seperti yang saya miliki
karena yang memberikan nama gelar ini adalah kakek saya yang memang orang keraton jogja dan bergelar KRT

saya adalah cucu terakhir yang bergelar Raden Roro,

dan apakah di buku nikah kelak nama saya berubah jadi Raden Nganten begitu saja?

maaf jika banyak tanya

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Mbak Mira.

Wah, pertanyaannya cukup "kompleks", ya? Oke, saya coba jawab satu-persatu.

Begini, deh.. Mulai dari, apa sih arti atau fungsi gelar untuk Anda? Di zaman sekarang sebetulnya gelar praktis gak punya fungsi apapun kecuali sebagai penanda bahwa Anda punya hubungan (darah) dgn seorang raja Jawa. Selebihnya, gak ada. Gelar gak bikin karir lancar, gak bikin pangkat kita naik, tugas akhir cepat selesai, cepat lulus, dsb.

Yg mau saya sampaikan: pilihan utk memakai/tdk memakai gelar kebangsawanan, mutlak adalah preferensi pribadi. Contoh kasus: waktu pertamakali membuat KTP, saya gak mencantumkan gelar saya. Bukan karena saya gak menghargai "pemberian" ortu dan leluhur. Tapi, semata krn saya jengah dgn huruf2 konsonan di dpn nama saya yg cuma (suka) bikin saya ditanya2i org kalo sdg menuliskan nama, atau ya biar ringkas saja. State of mind saya saat itu, apa sih untungnya..? Sebaliknya, apa ruginya untuk tidak memakai gelar dan menyimpannya saja sebatas sebagai pengetahuan pribadi dan keluarga?

Jadi, untuk kasus sepupu Anda, gak masalah. Akan halnya Anda ingin ttp memasang gelar Anda dan menurunkannya pada anak Anda kelak (sebagai R.Rr. atau R.Bg.), juga gak ada masalah. Semua tergantung pada Anda sendiri.

Dan, perlu saya tegaskan, bahwa gelar keturunan (yg diperoleh krn yg bersangkutan memang nyata punya hubungan darah dgn raja), adalah hak yg sifatnya otomatis melekat. Anda gak perlu menunggu siapapun dlm keluarga Anda untuk memberikan/menurunkannya. Contoh, spt kasus kakek Anda tadi.

Berikutnya tinggal persoalan, Anda dan keluarga (kakak/adik/sepupu) sudah punya Kekancingan belum dari Keraton?? Itu juga gak penting2 bgt sbnrnya. Tetapi, bila rasa aman dalam memakai dan menurunkan gelar adalah hal yg penting buat Anda, saya pikir, Anda perlu mengurusnya di Keraton. Kekancingan adalah semacam akte resmi yg dikeluarkan oleh Keraton, yg intinya adalah bahwa Keraton telah mencatat kelahiran dan nama Anda di dalam buku besarnya. Di Kekancingan juga biasanya ada silsilah Anda diurutkan dari raja terakhir yang menurunkan Anda.

Satu lagi, K.R.T. alias Kangjeng Raden Tumenggung, itu gelar pangkat, Mbak Mira. Kakek Mbak Mira di-K.R.T-kan oleh Keraton. Bukan oleh orangtuanya. Pun, gelar tersebut tidak bisa diturunkan, ataupun membuat grade gelar Anda naik. Jadi, intinya, gak ada soal buat Anda dan keluarga untuk memasang/tidak memasang gelar Anda. Dan, gak masalah juga untuk meneruskan/tdk meneruskannya kepada anak2 Anda.

Lalu, soal R.Ngt., kenapa Anda harus bingung? Raden Rara berubah ke Raden Nganten, itu aturan adat. Ketika Anda mungkin malas berhadapan dengan birokrasi pemerintahan untuk mengubah gelar, gak akan ada sanksinya, kok. Demikian juga jika mmg Anda memilih untuk mengubahnya, juga gak apa2. Tidak perlu khawatir/ragu. Karena sekali lagi, gelar keturunan (bukan pangkat) adalah hak yg otomatis melekat pada pemiliknya. Anda bebas untuk memilih menyimpan/memakainya.

Demikian jawaban saya. Semoga berkenan.

NF Magid mengatakan...

Salam, Saya Magid. Kebetulan saya penasaran setelah melihat buku silsilah yang diberikan oleh keluarga dari Istri saya. Nama buyut kakung dan istrinya memiliki gelar Raden dan Raden Nganten. Tapi kakek kami dan 4 saudaranya tidak diberikan gelar. Nah yang jadi pertanyaan kami, hilangnya gelar itu karena apa? karena jujur saya agak kesulitan untuk merunut garis keturunan di atas buyut kami itu. Sekalian mohon informasi jika Mas/Mbk tahu bagaimana saya bisa mencari runtutan keluarga besar kami (di atas buyut). Namanya R. Sarwono Tirtohoesodo dan R.Ng. Sutirah.

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Mas Magid. Wah, terus terang saya bingung harus menjawab apa terkait pertanyaan Anda. Yang pertama, Anda bertanya hilangnya gelar itu karena apa...? Macam2, Mas. Tapi, prinsipnya, apabila memang ada bukti bahwa yg bersangkutan masih memiliki ikatan darah dengan salah satu raja di Jawa, buat saya, gelarnya tidak hilang. Karena seperti sudah saya sampaikan dalam jawaban saya untuk pertanyaan Mbak Mira yang persis berada di atas komentar Anda, hak atas gelar keturunan bersifat otomatis dan tidak akan hilang. Barangkali yang ada hanyalah dipakai/tdk dipakai.
Nah, sebab lain yg kemudian mengakibatkan kakek istri Anda tidak bergelar, mungkin Anda bisa tanya pada famili senior di keluarga istri Anda yg masih hidup dan sekiranya mengalami sedikitnya zaman kakek Anda. Apakah alasannya politis? Praktis? Atau pribadi saja? Ini bukan saya yh bisa menjawab.
Pertanyaan kedua adalah mengenai bagaimana bisa menelusuri silsilah keluarga Anda di atas generasi buyut Anda. Kalau hanya berbekal nama tunggal (sepasang suami-istri) seperti yang Anda cantumkan di sini, mohon maaf, tapi saya kira akan cukup sulit melacaknya. Sekali lagi, bila memungkinkan, dan Anda sendiri punya waktu, barangkali Anda bisa mulai melacak dari famili Anda yang sudah senior (sesepuh di keluarga). Biasanya, mereka menyimpan dokumen2 lawas keluarga seperti silsilah, foto2, dsb. Ini bisa jadi pijakan Anda untuk mengungkap asal-usul keluarga Anda. Kalau pun mereka tidak menyimpannya, paling tidak, mereka bisa memberi keterangan lisan mengenai hal tersebut.
Demikian yg dapat saya sampaikan. Mohon maaf bila tidak dapat memberi pencerahan pada Anda. Tapi, semoga cara yang saya sampaikan tadi bisa bermanfaat untuk Anda.

Salam.

swaney lagozdiey mengatakan...

Siang mas .. jadi gini. Setiap gelar keturunan kan seperti memiliki sertifikasi silsilah gelar. Orang tua saya cerai, enatah itu sertifikatnya hilang atau apa saya tidak tau. Apakah tanpa sertifikat itu gelar keturunan masih bisa di pakai atau tidak ? Apa kah ktika menikah masih berubah ? Dan se andainya sertifikat itu di urus apakah harus berwarga yogya sedangkan setelah cerai saya pindah keluar kota. Terimakasih

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Mbak Swaney.

Aduh, sebetulnya pertanyaan2 serupa sudah banyak saya terima. Kasus2nya selalu senada, masalah hak menyandang gelar ketika ada "suatu masalah" terjadi. Oke, saya akan tetap menjawab.
1. Perceraian orangtua, tidak mengakibatkan gelar keturunan hilang. Sekali lagi saya tegaskan, bahwa gelar keturunan adalah hak personal yang bersifat otomatis dan melekat, dengan/tanpa adanya surat dari keraton apabila memang yang bersangkutan benar2 merupakan keturunan dari salah satu raja yang pernah bertahta di salah satu keraton/pura.

2. Perubahan gelar bagi seorang keturunan raja berjenis kelamin perempuan terjadi otomatis ketika yang bersangkutan menikah. Yg bergelar R.Aj. (Raden Ajeng) menjadi R.Ay. (Raden Ayu), dan yang bergelar R.Rr. (Raden Rara) menjadi R.Ngt. (Raden Nganten).

3. Surat silsilah dari keraton bukan KTP, Mbak. Jadi, perubahan status kependudukan/domisili sama sekali tidak diperlukan. Surat itu cuma berisi pengakuan keraton atas kelahiran dan silsilah Anda. Lain tidak.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat buat Anda.

Salam.

Rizma Adiningtyas mengatakan...

wah,, menarik sekali,, saya jadi pusing membacanya, banyak ya ternyata gelar-gelarnya.. Yang saya tankap sih gelar bagi bangsawan memang pasti sudah melekat tanpa harus di tulis. Dan hak bangsawan itu untuk tetap menulisnya atau tidak.

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Mbak Rizma. Betul sekali. Sistem gelar yang berlaku (saat ini) di keraton dan pura yang ada di Jawa memang sangat rumit dan kadang berlapis. Tapi, inilah salah satu kekayaan budaya kita yang perlu sekali kita ketahui. Kalau gak begitu nanti akan datang satu generasi yang gak tahu apa2 tentang ini. Akibatnya tentu sudah bisa tertebak, hehehe...
Dan saya berterima kasih kepada Anda, akhirnya ada juga yang mau membaca minimal komentar2 sebelumnya sehingga bisa menyimpulkan tentang hak melekat yang dibawa dalam gelar, dan hak pribadi individu dalam menentukan apakah ia ingin mencantumkan gelarnya/tidak. Sekali lagi, maturnuwun, sukses selalu, dan salam kenal.

Rizma Adiningtyas mengatakan...

iya benar sekali Mas, apalagi remaja jaman sekarang itu tingkat ke-apatisannya sangat tinggi. sedikit yang gemar membaca, maunya instan diberitahu. walaupun kadang saya juga merasa seperti itu. hehe... tapi walaupun begitu saya berusaha sebaik mungkin untuk mengurangi ke-apatisan saya terhadap hal-hal disekitar.

Hehe... sama-sama, karena saya tertarik membaca kasus-kasus mereka, siapa tahu hal-hal yang saya penasaran sudah terjawab, jadi saya baca dulu.Daripada membuang-buang waktu bertanya, nanti Njenengan kasihan jawab pertanyaan yang sama beberapa kali. :D #pengalaman pribadi.
aamiin. Salam kenal juga.

Rizma Adiningtyas mengatakan...

Hmm... tepat sekali. Semakin lama kalau tidak terus diperkenalkan akan menghilang dengan sendirinya. tergeser oleh kehidupan moderen jaman sekarang. Apalagi orang-orang jaman sekarang itu tingkat keapatisannya tinggi. Kan berbahaya kalau semua orang tidak mau tahu sejarah, tidak mau tahu apa yang terjadi di sekitar kita. Bisa hilang Indonesia sebagai negara ragam budaya.

Hehe... sama-sama Mas. Saya tertarik dengan kasus-kasus yang ditanyakan teman-teman semua di atas. Dan siapa tahu hal yang ingin saya tanyakan sudah terjawab di komentar sebelumnya. Kalau nanti saya nanya lagi, kasihan Njenengan nulis hal yang sama beberapa kali untuk menjawab pertanyaan kami. Kalau nggak dibales dikira sombong, kalau di balas males nulis lagi, karena sudah ada jawabnnya. hehe.... #pengalamanpribadi
aamiin... salam kenal juga.

Rizma Adiningtyas mengatakan...

Hmm... tepat sekali. Semakin lama kalau tidak terus diperkenalkan akan menghilang dengan sendirinya. tergeser oleh kehidupan moderen jaman sekarang. Apalagi orang-orang jaman sekarang itu tingkat keapatisannya tinggi. Kan berbahaya kalau semua orang tidak mau tahu sejarah, tidak mau tahu apa yang terjadi di sekitar kita. Bisa hilang Indonesia sebagai negara ragam budaya.

Hehe... sami-sami Mas. Saya tertarik dengan kasus-kasus yang ditanyakan teman-teman semua di atas. Dan siapa tahu hal yang ingin saya tanyakan sudah terjawab di komentar sebelumnya. Kalau nanti saya nanya lagi, kasihan Njenengan nulis hal yang sama beberapa kali untuk menjawab pertanyaan kami. Kalau nggak dibales dikira sombong, kalau di balas males nulis lagi, karena sudah ada jawabnnya. hehe.... #pengalamanpribadi
Aamiin... salam kenal juga.

Abbas Rumail mengatakan...

Salam, Mas Wishnu.
Perkenalkan saya Rumail Abbas, dari Jepara.
Saya sedang riset tentang raja-raja Jawa, dan kebetulan terbentur masalah gelar kebangsawanan. Kalau berkenan, bolehkah kirim-kirim surel atau nomor kontak (WhatsApp/BMM) untuk konsultasi lebih lanjut dan inten?

Suwun.
Rumail Abbas
email: stakof@live.com
twitter: @Stakof

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Untuk Mbak Rizma,
Hehehe, maturnuwun sudah mau mengerti derita blogger gak enakan seperti saya, hahaha... Kadang gemas juga, wong pertanyaannya suka sama, kok ya gak ngecek2 ke atas. Tapi, ya sudah, resiko saya sebagai penulis, bahwa harus menjawab tiap pertanyaan terkait tulisan saya yang masuk. Saya gak mau dicap pelit ilmu. Jadi, sesedikit apa pun yg saya punya, insya Allah saya bagi. Berkahnya adalah, selain tentunya tambah kenalan, juga saya dapat pengalaman dan ilmu2 baru juga. Hehehe... Sekali lagi, maturnuwun.

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Salam kenal, Mas Rumail.
Tentunya saya akan sangat terbuka bila memang ada yang bisa saya bantu terkait penelitian Anda. Kontak akan saya kirim via surel, nggih.

Nuwun.

Franz Berti mengatakan...

Salam, mas Wishnu
perkenalkan saya Franz, dari jakarta.

saya rencana mau mengurus tepas darah dalem milik ibu saya yang masih cucuk dari R.Wirosoemarto. namun kendalanya serat kekancingan milik Eyang kakung saya sudah rusak parah karana dulu sempat terjadi musibah kebakaran. yang jadi pertanyaan karena surat kekancingan terakhir miling eyang sudah bisa dikatakan "hilang" kira2 dokumen apa saja yang bisa menunjang yang sekiranya bisa menjadi bukti acuan untuk mengurus surat kekancingan milik ibu saya. Matursuwun Sanget.

Franz Berti mengatakan...

Salam, mas Wishnu
perkenalkan saya Franz, dari jakarta.

saya rencana mau mengurus tepas darah dalem milik ibu saya yang masih cucuk dari R.Wirosoemarto. namun kendalanya serat kekancingan milik Eyang kakung saya sudah rusak parah karana dulu sempat terjadi musibah kebakaran. yang jadi pertanyaan karena surat kekancingan terakhir milik eyang sudah bisa dikatakan "hilang" kira2 masih bisa tidak saya mengurus surat kekancingan tersebut? dan bilamana masih bisa dokumen apa saja yang bisa menunjang yang sekiranya bisa menjadi bukti acuan untuk mengurus surat kekancingan milik ibu saya mohon pencerahan nya Mas Wisnu. Matursuwun Sanget.

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Mas Franz.

Pertama, yang ingin saya sampaikan, jika pertanyaannya adalah: "kira2 masih bisa tdk Mas mengurus Kekancingan?" Jawabannya adalah, tentu bisa saja. Semua kondisi kan selalu ada "celah"-nya, Mas. Demikian juga dengan kasus yang Mas Franz alami.

Kedua, terkait dokumen yang rusak dan hilang. Saya harus bertanya dulu, apakah Kekancingan milik eyang kakung Mas memang benar2 sudah separah itu rusaknya sehingga tidak bisa difotokopi atau scan? Bila memang kerusakan sudah separah itu, baiknya difoto dgn HP atau kamera sebagai bukti bahwa dokumen itu memang ada, tetapi kondisinya rusak karena kebakaran.

Ketiga, terkait dengan poin kedua, Mas mungkin bisa mencari keluarga yang se-eyang kakung dengan Mas untuk dipinjam Kekancingannya dan di-copy sekadar untuk membuktikan bhw mmg keluarga Mas punya Kekancingan. Hanya saja, karena kebakaran, maka untuk garis yang lgsg ke Mas Franz terpaksa tidak bisa dilihat fisiknya.

Keempat, untuk mengajukan permohonan menerbitkan Kekancingan di Keraton Jogja, silakan Mas sowan ke Tepas Darah Dalem. Persyaratan umum yg hrs dibawa adalah:
1. Fotokopi KTP (2 lbr)
2. Fotokopi Akta Kelahiran (2 lbr)
3. Fotokopi KK (2 lbr)
4. Fotokopi Kekancingan terdahulu, atau dokumen silsilah yang lain (2 lbr)
5. Pasfoto berwarna ukuran 3 x 4 (2-3 lembar)
Selain itu, wajib menyertakan saksi, setahu saya, sebanyak 2 orang yang bukan saudara kandung. Nanti di sana Anda juga akan diminta mengisi formulir isian. Berhubung sudah lama saya gak ngurus Kekancingan, saya sudah agak lupa2-ingat juga dengan syarat2 di atas. Jadi, ada baiknya juga Mas mengecek langsung ke sana. Supaya lebih sreg.

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga ada gunanya.

Salam.

rd781 mengatakan...

Salam kenal, Mas.
Nama saya Rere. Keluarga besar Mama saya berasal dari keraton kasunanan Surakarta. Kakek buyut saya bergelar R.M. dan merupakan asisten Wedana pada zaman itu. Kakek dan Nenek saya bergelar R.M. dan R.Ay. Pernah saya membaca buku silsilah keluarga saya. Ternyata kami merupakan keturunan Sultan Hadiwijaya dari Pajang.
Menarik sekali postingan yag Mas buat. Sangat mencerahkan bagi saya yang masih awam mengenai gelar kebangsawanan di kerajaan-kerajaan Jawa. Sukses terus untuk, Mas. :)

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Rere.

Terima kasih sekali atas apresiasinya. Syukur bila tulisan saya bisa sedikitnya memberi informasi tentang hal yang buat sebagian orang "tidak menarik" ini, hehehe.. Sukses juga buat Anda. Tuhan berkati.

Rizky Bayu Dwinanda mengatakan...

Salam kenal Mas Wishnu
Saya Rizky darivJakarta. Saya punya pertanyaan. Jadi saya itu berdasarkan keturunan ayah termasuk cucu Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Saya baru menemukan silsilah keluarga yang dibuat tahun 1938 oleh sepupu kakek ayah saya yang seorang pegawai administrasi Belanda yang nama panggilannya R. Mesir. Silsilahnya mulai dari Prabu Brawijaya V sampai ke kakek saya. Kakek saya namanya juga masih memiliki gelar Raden. Nama beliau R. Slamet. Tapi nama beberapa adik kakek saya belum ditulis karena mereka belum lahir. Tapi saya lihat di makam mereka semua tetap ada gelar Raden atau Radeng Ngantennya. Tapi ayah saya tidak diberi gelar Raden oleh ayahnya meskipun dikampung (Purworejo) masih dipanggil raden. Pertanyaan saya, saya saat lahir juga tidak diberi gelar Raden dan sama seperti ayah saya, saya tetap dipanggil Raden oleh orang orang di kampung. Jadi, boleh tidak saya menambahkan gelar Raden di KTP saya?

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo, Mas Rizky.

Jawabannya: boleh.

Salam.

Ananda_@rifin mengatakan...

halo mas wisnu,,
saya mau tanya nih . .
kalo gelar dari orang yang bergelar Raden kemudian mempunyai anak permpuan,anak perempuan nya itu mempunyai anak perempuan,dan anak perampuan itu mempunyai anak laki laki.
nah yang saya tanyakan anak laki-laki itu mempunyai gelar atau tidak/ kalo mempunyai ber gelar apa ya??
terimakasih sebelumnya..

Ananda_@rifin mengatakan...

halo mas wisnu,
saya mau tanya nih,
kalo ada orang yang bergelar raden, mempunyai anak perempuan, anak perampuan nya itu mempunyai anak perempuan, dan anak perempuan nya tadi mempunyai anak laki-laki,
yang saya tanyakan, apa anak-anak perempuan itu mempunyai gelar? dan kalo mempunyai bergelar apa?
kemudian yang anak laki-laki itu mempunyai gelar atau tidak, jika mempunyai bergelar apa?

terimakasih sebelumnya..

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo juga, Mas Ananda Arifin.
Pertanyaan pertama Mas bisa terjawab dengan membaca pertanyaan2 sebelum Mas berikut jawaban2 dari saya.
Sedangkan utk pertanyaan kedua mengenai gelar apa yang akan disandang, itu tergantung yang bersangkutan sudah jatuh keturunan ke berapa dari raja terakhir yg menurunkan. Nah, ini juga Mas bisa simak di tulisan2 saya di blog ini, sebab masing2 keraton dan puro punya kebijakan gelar yang berbeda.

Demikian yang bisa saya sampaikan.
Maturnuwun.

Ananda_@rifin mengatakan...

sebemum nya maturnuwun mas,
tapi mohon maaf , saya masih bingung. karena saya awam dengan hal seperti ini, saya kemarin hanya melihat gelar raden di nisan kakek buyut saya,dan saya mulai cari informasi tentang hal ini.karena nenek saya tdk menggunakan gelar.

Wishnu Sudarmadji mengatakan...

Hallo Mas Ananda Arifin,

Saya pun bingung kalau informasi dari Anda juga kurang jelas. Begini saja, prinsipnya adalah, Jawa menganut sistem penurunan gelar yang sifatnya multilineal. Artinya, dia melihat jalur mana yang lebih dekat urutannya dengan raja terakhir yang menurunkan. Apakah dari jalur perempuan (ibu), atau laki-laki (bapak).
Sistem patrilineal murni baru diterapkan pada kasus anak raja atau penguasa setingkat raja. Dalam kasus seperti itu, jelas keturunan yang dilahirkan otomatis mengikuti nasab dan gelar dari ayahnya yang seorang raja/penguasa setingkat raja.

Berikutnya, sudah saya tegaskan pula beberapa kali dalam pertanyaan2 sebelum Mas Ananda, yang sebetulnya bisa dibaca, bahwa urusan memakai/tidak memakai gelar adalah preferensi pribadi masing-masing. Keraton/institusi kebangsawanan yang ada, tidak bisa memaksakan seseorang untuk menggunakan/mencopot gelarnya. Apalagi di zaman sekarang. Jadi, soal ini sebetulnya Mas tidak perlu bingung.

Selanjutnya, perihal siapa harus menggunakan gelar apa, saya juga gak bisa jawab kalau tidak ada informasi yang jelas perihal silsilahnya. Umpamanya saja, apa gelar yang harus saya pakai bila saya adalah keturunan ketiga (misalnya) dari Sultan Hamengku Buwono VI... Ini saya bisa jawab, sebab aturannya jelas. Di lingkup Keraton Kasultanan Jogjakarta dan Pura Kadipaten Pakualaman, bangsawan derajat ke-2 sampai 4, untuk laki-laki bergelar R.M. (Raden Mas), untuk perempuan R.Aj. (Raden Ajeng) dan bila sudah menikah menjadi R.Ay. (Raden Ayu). Di Kasunanan dan Mangkunagaran, gelar R.M. dan R.Aj./R.Ay. bisa sampai keturunan ke-5. Setelah itu, bangsawan di derajat keturunan ke-6 dst memakai gelar R. (Raden) untuk laki-laki, dan R.Rr. (Raden Rara) untuk perempuan yang belum menikah. Bila dia sudah menikah, maka gelarnya menjadi R.Ngt. (Raden Nganten).

Demikian jawaban saya, semoga berkenan.

Salam.